A. Teori agenda setting
Dalam ilmu komunikasi massa menjelaskan bagaimana media massa dapat mempengaruhi persepsi publik tentang isu-isu penting. Media tidak selalu memberitahu kita apa yang harus dipikirkan, tetapi mereka seringkali berhasil menentukan apa yang harus kita pikirkan dengan cara menyoroti isu-isu tertentu dan mengarahkan perhatian publik pada isu-isu tersebut.
Teori agenda setting berpendapat bahwa media massa memiliki kemampuan untuk membentuk agenda publik, yaitu isu-isu yang dianggap penting oleh masyarakat. Media melakukannya dengan memilih dan menyoroti isu-isu tertentu dalam pemberitaan mereka, sehingga isu-isu tersebut menjadi topik yang dibicarakan dan diperhatikan oleh publik.
Jenis Agenda Setting:
1.) Agenda setting media: Media menentukan isu apa yang akan menjadi perhatian publik.
2.) Agenda setting publik: Masyarakat menentukan isu apa yang dianggap penting.
3.) Agenda setting kebijakan: Keputusan pembuat kebijakan publik dipengaruhi oleh agenda publik dan media.
Contoh: Jika media secara konsisten memberitakan isu kebersihan lingkungan, maka masyarakat cenderung akan menganggap isu tersebut penting dan mulai memperhatikannya.
Teori ini membantu memahami bagaimana media massa membentuk persepsi publik tentang berbagai isu. Teori ini dapat digunakan untuk menganalisis isu-isu yang sedang hangat dibicarakan dan bagaimana media mempengaruhi perhatian publik terhadap isu-isu tersebut. Teori ini dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran publik tentang isu-isu penting yang mungkin tidak banyak diperhatikan sebelumnya.
Teori agenda setting adalah alat yang berguna untuk memahami bagaimana media massa mempengaruhi persepsi publik tentang isu-isu penting. Dengan memahami teori ini, kita dapat menjadi lebih kritis terhadap informasi yang kita terima dari media dan lebih memahami bagaimana media membentuk pandangan kita tentang dunia.
Landasan teori ini berasal dari hasil kajian pemilihan umum di Amerika Serikat pada tahun 1968 yang bernama 'The Chapel Hill study'. McCombs dan Shaw menemukan adanya hubungan yang kuat antara pemikiran seratus penghuni di Kota Chapel Hill dengan isu terpenting pada pemilihan dan isu berita terpenting yang disiarkan oleh media berita lokal.
Namun, jauh sebelum McCombs dan Shaw mempublikasinya di tahun 1968, dalam bukunya Walter Lippmann yang berjudul Public Opinion terbitan tahun 1922 menjadi cikal bakal paling awal yang bisa dilacak tentang kajian teori agenda setting ini. Di dalam bab pertama dari buku tersebut, Lipmann berargumen jika media massa adalah penghubung utama antara peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia dengan gambaran tentang apa yang dipikirkan orang-orang luas. Tanpa sekalipun menyebut istilah 'agenda setting', Walter Lippmann telah menuliskan apa yang hari ini kita pahami sebagai 'agenda setting'. Menurut Lippmann, masyarakat tidak menanggapi peristiwa aktual di lingkungan tetapi lingkungan semu, yang merupakan istilah yang mengacu pada 'gambaran yang ada di benak kita'.
Melanjutkan bukunya Lippmann, Bernard Cohen melakukan observasi pada tahun 1963 dan membuat sebuah pernyataan fenomenal yang kira-kira maknanya seperti ini: pers mungkin tidak sungguh-sungguh mampu menyebutkan hal penting apa yang seharusnya dipikirkan (what to think) kepada khalayak audiensnya, tetapi benar-benar berhasil dalam menentukan isu apa yang mereka pikirkan (what to think about).
B. Teori Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi adalah bidang studi yang mempelajari bagaimana informasi dikelola dan disebarkan dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Teori-teori komunikasi organisasi membantu menjelaskan berbagai aspek komunikasi dalam konteks organisasi, termasuk bagaimana pesan disampaikan, diproses, dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Beberapa teori utama dalam komunikasi organisasi meliputi:
1.) Teori Struktural Klasik: dikenal sebagai teori mesin, menekankan pentingnya struktur organisasi yang jelas dan hierarki dalam komunikasi. Fokusnya adalah pada efisiensi dan efektivitas melalui pembagian kerja dan rantai komando yang terdefinisi dengan baik, menurut BINUS UNIVERSITY.
2.) Teori Neoklasik (Hubungan Manusia): Teori ini muncul sebagai reaksi terhadap teori klasik, menekankan pentingnya hubungan antar manusia dan kebutuhan individu dalam organisasi. Fokusnya adalah pada interaksi sosial, motivasi, dan kepuasan kerja, menurut BINUS UNIVERSITY.
3.) Teori Sistem: Teori ini melihat organisasi sebagai sistem yang kompleks, di mana berbagai bagian saling terkait dan saling mempengaruhi. Komunikasi dianggap sebagai proses vital untuk menjaga keseimbangan dan adaptasi organisasi terhadap lingkungannya, menurut BINUS UNIVERSITY.
4.) Teori Peniti Penyambung (Linking Pin Model): dikembangkan oleh Rensis Likert, teori ini menggambarkan struktur organisasi yang terhubung melalui beberapa kelompok. Beberapa penyelia (supervisor) berfungsi sebagai penghubung antara kelompok-kelompok tersebut, menjaga komunikasi dan koordinasi antar kelompok kerja, menurut UMSU.
5.) Teori Fusi: dikembangkan oleh Bakke dan Argyris, berpendapat bahwa ada ketidaksesuaian antara kebutuhan individu dan tujuan organisasi. Organisasi harus berusaha menyelaraskan kebutuhan individu dengan tujuan organisasi agar tercipta keharmonisan dan produktivitas, menurut Repository UNIKOM.
6.) Teori Public Relations: berfokus pada upaya organisasi untuk membangun dan memelihara hubungan baik dengan publik internal (karyawan) dan eksternal (masyarakat umum, pelanggan, dll.), menurut Sampoerna University.
7.) Teori Kepemimpinan: menekankan pentingnya gaya kepemimpinan yang efektif dalam komunikasi organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Pemimpin yang baik mampu memahami dan memenuhi kebutuhan kelompoknya, serta memfasilitasi komunikasi yang efektif.
Jenis-jenis komunikasi dalam organisasi, seperti:
1.) Komunikasi Vertikal: Meliputi komunikasi ke bawah (dari atasan ke bawahan) dan komunikasi ke atas (dari bawahan ke atasan), menurut 168Solution.
2.) Komunikasi Horizontal: Terjadi antar individu atau kelompok pada level yang sama dalam organisasi, menurut 168Solution.
3.) Komunikasi Diagonal: Melibatkan komunikasi antara individu atau kelompok pada level yang berbeda dan tidak mengikuti hierarki organisasi
Teori ini menekankan pentingnya hubungan interpersonal dan kebutuhan sosial karyawan dalam organisasi. Faktor manusia dianggap penting untuk meningkatkan kinerja organisasi.
Contoh: Program pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama tim dan kepuasan kerja karyawan.
C. Teori Komunikasi Antar Budaya
Teori Komunikasi Antar Budaya adalah bagaimana perbedaan budaya mempengaruhi proses komunikasi antara individu atau kelompok. Teori ini berfokus pada bagaimana norma, nilai, dan perspektif budaya membentuk gaya komunikasi, interaksi, dan pemahaman lintas budaya.
Berikut adalah beberapa teori komunikasi antar budaya:
1.) Teori Dimensi Budaya Hofstede: mengidentifikasi enam dimensi budaya yang dapat digunakan untuk menganalisis perbedaan antar budaya: jarak kekuasaan, individualisme vs kolektivisme, maskulinitas vs feminitas, penghindaran ketidakpastian, orientasi jangka panjang vs jangka pendek, dan indulgensi vs pengekangan.
Dimensi-dimensi ini membantu memahami bagaimana nilai-nilai budaya memengaruhi gaya komunikasi dan perilaku.
2.) Teori Adaptasi Komunikasi: Teori ini menjelaskan bagaimana individu menyesuaikan gaya komunikasi mereka ketika berinteraksi dengan orang-orang dari budaya yang berbeda.
Adaptasi ini bisa berupa perubahan dalam bahasa, nonverbal, dan strategi komunikasi lainnya untuk meningkatkan pemahaman dan mengurangi kesalahpahaman.
3. Teori Identitas: bagaimana identitas budaya seseorang memengaruhi persepsi dan interaksi mereka dalam konteks antarbudaya.
Identitas budaya bisa menjadi sumber kekuatan dan kebanggaan, tetapi juga bisa menjadi sumber konflik dan kesalahpahaman.
4. Teori Manajemen Ketidakpastian dan Kecemasan: menjelaskan bagaimana ketidakpastian dan kecemasan dapat muncul dalam komunikasi antarbudaya karena kurangnya informasi tentang norma dan nilai budaya orang lain.
Individu berusaha untuk mengurangi ketidakpastian dan kecemasan ini dengan mencari informasi, membangun hubungan, dan mengembangkan strategi komunikasi yang efektif.
5. Teori Konvergensi: bagaimana individu cenderung menyamakan gaya komunikasi mereka ketika berinteraksi dengan orang lain, terutama dalam konteks komunikasi antarbudaya.
Konvergensi ini dapat terjadi secara sadar atau tidak sadar, dan tujuannya adalah untuk meningkatkan efektivitas komunikasi dan mengurangi kesalahpahaman.
6. Teori Sistem: cara komunikasi antarbudaya sebagai sistem yang kompleks yang terdiri dari berbagai elemen yang saling terkait, termasuk individu, budaya, dan lingkungan. Perubahan dalam satu elemen dapat mempengaruhi elemen-elemen lainnya dalam sistem.
Komunikasi antarbudaya penting untuk membangun pemahaman, toleransi, dan kerja sama lintas budaya. Dalam era globalisasi, kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dengan orang-orang dari berbagai latar belakang budaya menjadi semakin penting untuk kesuksesan individu dan organisasi. Komunikasi antarbudaya yang efektif dapat membantu mencegah konflik, membangun hubungan yang positif, dan mempromosikan pertukaran ide dan pengetahuan.